Metode Gabungan

Posted On Agustus 27, 2008

Filed under Paradigma Penelitian
Tag:

Comments Dropped leave a response

Metode gabungan, yaitu penggabungan antara metode kuantitaif dan kualitatif dalam satu penelitian pernah dilakukan oleh para peneliti. Campbell dan Fisk pada tahun 1959 menggunakan metode gabungan untuk mengukur sifat psikologis. Selanjutnya, Denzin, pada tahun 1978 menggunakan istilah triangulasi untuk mengkosepkan penggunaan metode gabungan dalam satu penelitian.

Penggunaan gabungan metode penelitian, oleh para peneliti biasanya dilakukan dengan memadukan prosedur pengumpulan data kualitatif dan kuantitatif secara bersamaan. Sebagai contoh, penggalian data pada penelitian tentang persepsi aparatur terhadap kepemimpinan wanita, dapat dilakukan dengan menggunakan survey dan sekaligus wawancara mendalam.

Namun demikian, secara pribadi saya menilai penggabungan kedua metode tersebut sebenarnya kurang cocok. Karena metode sangat terkait dengan paradigma. Penggunaan metode gabungan pada suatu peneitian hanya pada prosedur, justru menimbulkan pertanyaan paradigmatik: ”pendekatan apa yang sesungguhnya digunakan pada penelitian tersebut?’. Menurut saya, setiap metode dan prosedur penelitian sangat lekat dengan paradigmanya masing-masing dan karenanya tidak dapat dicampuradukan.

Jika seorang peneliti kemudian berupaya menggunakan pendekatan gabungan, maka yang perlu dilakukan adalah menggunakan gabungan sebagaimana ditawarkan oleh Creswell (1994), sebagai berikut:

a). Pendekatan desain dua tahap

Desain dua tahap adalah melakukan penelitian dua tahap, dimana kedua tahap tersebut menggunakan metode yang berbeda. Sebagai contoh, tahap pertama peneliti menggunakan metode kuantitatif. Setelah selesai tahap pertama, ia kemudian melakukan penelitian dengan menggunakan metode kualitatif.

Dengan pendekatan ini, peneliti dapat memisahkan kedua pendekatan dengan jelas, karena kedua pendekatan tidak dicampuraduk. Namun demikian, metode ini tentu saja membutuhkan waktu yang lama dan anggaran yang cukup besar.

b). Pendekatan desain dominan-kurang dominan

Pendekatan ini menggunakan gabungan pada prosedur penelitian, tetapi salah satu metode lebih dominan terhadap metode yang lain. Dalam hal ini dapat dikatakan, bahwa metode yang kurang dominan hanya diposisikan sebagai metode pelengkapuntuk mendukung ”kekayaan data”. Sebagai contoh pada penelitian tentang persepsi aparatur terhadap kepemimpinan wanita, metode dominant adalah kualitatif, dan karena itu teknik penggalian data utama adalah melalui wawancara mendalam dan participant observation. Sementara survey dilakukan untuk menambah data saja, dan bukan sebagai prosedur utama.

Keunggulan pendekatan ini, adalah bahwa peneliti sebenarnya masih cukup konsisten dengan pendekatan penelitian yang dipilihnya. Akan tetapi tetap masih memungkinkan adanya kritik dari mereka yang tidak setuju penggabungan, dan dianggap sebagai penelitian dengan prosedur ”salah penempatan”.