Bahan bacaan

Posted On April 15, 2009

Filed under Uncategorized

Comments Dropped leave a response

literatur MPS yang perlu dibaca:

Bahan bacaan

Iklan

Kualitatif ataukah kuantitatif ?

Mengacu pada pendapat Creswell (1994), maka pemilhan atas metode penelitian (kualitatif ataukah kuantitatif) hendaknya mempertimbangkan lima faktor sebagai berikut:

a. Pandangan peneliti

Pandangan peneliti ini mencerminkan “kemantapan” peneliti terhadap asumsi ontologis, epistemologis, aksiologis dan metodologis dari salah satu pendekatan. Jika seseorang lebih tertarik dengan asumsi obyektifitas maka ia mesti memilih metode kuantitatif. Sedangkan mereka yang lebih cenderung pada kedalaman pemahaman dari suatu fenomena, maka ia mesti memilih metode kualitatif.

b. Latihan dan pengalaman peneliti

Latihan-latihan dan pengalaman penggunaan dari suatu metode penelitian tertentu, tentu saja sangat membantu dalam aplikasi metode tersebut. Dengan latihan dan pengalaman tersebut, seseorang menjadi lebih terbiasa dan semakin menguasai penerapan metode yang telah dikuasainya itu. Sebagai contoh, bagi para peneliti yang terlatih menggunakan teknik-teknik statistik, penulisan ilmiah teknis penggunaan software computer untuk analisis kuantitatif, dan terbiasa membaca jurnal kuantitatif di perpustakaan, maka ia akan lebih cocok untuk menggunakan metode kuantitatif. Sedangkan para peneliti yang memiliki banyak pengalaman dalam penulisan essay, terbiasa membaca jurnal penelitian kualitatif, menguasai software computer untuk analisis kualitatif, akan lebih memilih metode kualitatif.

c. Sisi psikologis peneliti

Bagi peneliti yang secara psikologis lebih nyaman dengan kondisi penelitian yang lebih pasti tanpa kerancuan dan frustasi, serta resiko lebih kecil, maka ia akan memilih metode kuantitatif. Hal ini karena metode kuantitatif memberlakukan prosedur dan peraturan yang cermat. Selain itu, metode kuantittaif juga lebih memungkinkan untuk pelaksanaan penelitian dalam waktu yang lebih singkat daripada penelitian dengan desain kualittaif.

Sedangkan peneliti yang bersedia mengambil resiko yang melekat dalam prosedur yang rancu dan pelaksanaan penelitian yang memerlukan waktu lama, maka ia cocok untuk memilih metode kualitatif.

d. Sifat masalah

“masalah” yang akan diteliti seringkali telah menunjukan “kecocokannya” dengan metode tertentu. Pengguna metode kuantitatif biasanya mendapatkan masalah dari kepustakaan dan hasil-hasil penelitian, yang digunakan sebagai pijakan penelitian. Variable-variabel penelitian dapat ditemukan dan dirumuskan sebelum penelitian dilakukan. Sedangkan pengguna metode kualitatif, pada umumnya harus menggali terlebih dahulu masalah penelitian, karena sedikitnya informasi tentang masalah tersebut. variable tidak banyak diketahui, oleh karena itu peneliti harus memusatkan perhatian terhadap konteks agar dapat memhamai fenomena yang sedang diteliti.

e. Pembaca penelitian

Pembaca penelitian adalah mereka yang membaca hasil penelitian sejak hasil penelitian siap dipublikasikan. Para pembaca tersebut antara lain adalah editor jurnal, pembaca jurnal, rekan sekerja, atau atasan tempat kerja. Metode penelitian yang cocok untuk dipilih, adalah yang dapat dipahami para pembaca.

Berdasarkan kelima pertimbanagan diatas, selanjutnya kita dapat menentukan metode mana yang menurut kita cocok untuk penelitian kita nantinya. Jika kita merasa cenderung dengan asumsi-asumsi kuantitatif, terbiasanya dengan analisa statistic, menguasai software untuk kuantitatif, memilki waktu penelitian yang relatif pendek, maka sudah selayaknya kita memilih metode kuantitatif.

Tahap-tahap dalam Penelitian

Terdapat 7 (tujuh) tahap dalam proses mendapatkan pengetahuan melalui research; meliputi:

1) Pemilihan topik;

Langkah pertama yang harus diambil peneliti untuk memulai suatu penelitian adalah dengan menentukan atau memilih topik penelitian. Penentuan topik ini penting, namun karena masih bersifat sangat umum, topik penelitian belum dapat mengarahkan kemana penelitian akan dibawa. Topik dalam penelitian ilmu sosial diperoleh dari berbagai isu yang berkembang dalam masyarakat atau dalam proses penyelenggaraan negara, seperti kemiskinan, kinerja birokrasi, pertumbuhan ekonomi, kualitas pelayanan publik, dan motivasi kerja pegawai.

Topic penelitian ini dalam pemahamanannya sering dikaburkan dengan Judul penelitian. Hal ini dapat difahami, karena pada beberapa kasus, topic digunakan sebagai judul atau sub judul dari suatu penelitian. Pembedaan topic dari judul ini sebenarnya dapat dilihat terutama dari formulasi susunan kalimatnya, karena formulasi judul biasanya sudah memuat hal-hal yang spesifik agar mampu mencerminkan substansi dari penelitian tersebut. Selain itu, topic harus sudah ditetapkan pada tahap awal proses penelitian, sedangkan perumusan judul dapat dilakukan baik pada saat awal maupun ketika penelitian sudah selesai dilakukan.

2) Pemfokusan Pertanyaan penelitian;

Sebagaimana telah disebutkan, bahwa topik penelitian pada umumnya masih bersifat sangat umum (general) sehingga pengetahuan yang akan digali juga sangat luas dan kurang terfokus. Untuk kepentingan penelitian, maka topik tersebut harus diturunkan sampai tingkatan yang mudah dioperasionalkan, sehingga data dan informasi yang akan digali dari penelitian tersebut menjadi jelas.

Fokus penelitian tersebut dapat diperoleh melalui penyusunan pertanyaan-pertanyaan penelitian (research questions) atau rumusan masalah (problem statement) yang terkait dengan topik tersebut.

Contoh:

Topik

Pertanyaan fokus penelitian

Kompetensi SDM Aparatur

Bagaimana model kompetensi kepemimpinan untuk pemangku jabatan pimpinan pada instansi pemerintah di Daerah ?

Bagaimana tingkat kompetensi pemangku jabatan eselon IV di Kotamadya Jakarta Pusat?

Dsb

Penerapan Kebijakan desentralisasi fiskal di Indonesia

Bagaimana pengaruh desentralisasi fiskal terhadap kesenjangan antar daerah di Indonesia periode 1999-2004?

Untuk merumusan fokus penelitian, peneliti terlebih dahulu melakukan pendalaman terhadap topik tersebut. Hal yang menarik untuk diteliti atau isu yang menarik perhatian peneliti dari topik tersebut dan akan diperoleh jawabannya melalui proses penelitian latar belakang dari

3) Desain Penelitian.

Desain penelitian melingkupi berbagai informasi penting tentang rencana penelitian. Dalam desain penelitian diuraikan tentang pertanyaan fokus penelitian, tujuan penelitian, variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian, dan berbagai prosedur untuk penentuan sample/key informan, penggalian dan analisa data.

4) Pengumpulan Data

Merupakan proses pengumpulan berbagai data dan informasi yang dibutuhkan dalam penelitian. Proses pengumpulan data ini dilakukan mengacu pada prosedur penggalian data yang telah dirumuskan dalam desain penelitian. Adapun data berdasarkan jenisnya dapat dibedakan atas data primer, data sekunder, data kuantitatif dan data kualitatif.

5) Analisa Data

Data dan informasi yang diperoleh dari proses pengumpulan data selanjutnya dianalisa menggunakan prosedur yang tepat sesuai jenis data dan rancangan yang telah dirumuskan dalam desain penelitian.

6) Interpretasi Data

Hasil analisa data kemudian diinterpretasikan sehingga data-data tersebut memberikan informasi yang bermanfaat bagi peneliti. Pada jenis penelitian eksplanatory, tahap interpretasi data adalah tahap mengkaitkan hubungan antara berbagai variabel penelitian dan untuk menjawab apakah hipotesa kerja diterima ataukah ditolak. Sedangkan pada penelitian deskriptif, interpretasi ini adalah untuk menjelaskan fenomena penelitian secara mendalam berdasarkan data dan informasi yang tersedia.

7) Diseminasi

Hasil penelitian, selanjutnya disampaikan keberbagai pihak. Tujuan diseminasi ini adalah selain untuk memasyarakatkan hasil temuan pada masyarakat dan forum ilmiah, juga agar hasil penelitian mendapatkan umpan balik dari dunia ilmiah.

Penelitian dan Penciptaan Pengetahuan

file bentuk PDF download di sini

Sudah jamak, bagi manusia memiliki keingintahuan terhadap sesuatu. Ketika muncul dihadapannya suatu fenomena yang menarik, pertanyaan yang sering muncul dibenaknya adalah “apa”, “mengapa”, dan “bagaimana” tentang fenomena tersebut. Untuk menjawab berbagai pertanyaan tersebut, banyak cara yang dapat dilakukan oleh manusia, yang semuanya mengarah pada penciptaan atau untuk mendapatkan pengetahuan yang diperlukan.

Menurut Newman[1], terdapat 6 (enam) cara yang dilakukan manusia untuk mendapatkan pengetahuan, meliputi:

1. Authority,

Authority (otoritas) menunjuk pada penguasaan, kemampuan dan keahlian seseorang pada bidang tertentu. Dengan cara ini orang memandang bahwa apa yang diucapkan ataupun ditulis oleh mereka yang dinilai memiliki otoritas adalah suatu kebenaran. Penggunaan cara ini dapat mempersingkat waktu dalam mendapatkan pengetahuan, apalagi jika pemilik otoritas tersebut memiliki kredibilitas yang tinggi. Namun demikian, kepercayaan yang tinggi terhadap pemangku otoritas akan mengakibatkan manusia cenderung kurang kritis, dan menerima informasi tanpa upaya mempertanyakan lagi kebenaran dari informasi tersebut. Otoritas dapat menyesatkan, khususnya ketika informasi yang diterima tersebut sebenarnya tidak benar.

Penggunaan otoritas sebagai sumber pengetahuan sering dijumpai dalam lingkungan lembaga keagamaan dan birokrasi pemerintah. Pernyataan-pernyataan para mentari atau pejabat tinggi negara tentang sesuatu sering diterima sebagai kebenaran khususnya oleh mereka yang berada dalam lingkungan tersebut.

2. Traditions,

Seseorang dikatakan menggunakan tradisi sebagai cara untuk mendapatkan pengetahuan, ketika ia menjadikan nilai-nilai yang telah melembaga dalam masyarakat atau peristiwa masa lalu sebagai rujukan kebenaran.

Bagi yang menggunakan tradisi sebagai cara mendapatkan pengetahuan, kesalahan tradisi akan dikesampingkan, karena menurut meraka “sesuatu yang dulu benar, sampai kapan juga akan tetap benar”.

Contoh penggunaan tradisi sebagai sumber pengetahuan dalam masyarakat kita adalah peran wanita dalam keluarga, khususnya peran dalam pendidikan anak. Dalam tradisi tersebut, pendidikan anak dibebankan pada para ibu-ibu, dan hal ini terus berlanjut sampai sekarang.

3. Common Sense,

Pengetahuan yang dipandang masyarakat umum sebagai suatu kebenaran dan hal tersebut juga masuk akal, dapat juga digunakan oleh orang sebagai cara untuk mendapatkan pengetahuan. Cara ini dapat bermanfat dalam kehidupan sehari-hari, tapi terkadang juga dapat menyesatkan.

4. Media Myth,

Media memberikan banyak informasi pada masyarakat, dan sangat sering digunakan sebagai sumber utama pengetahuan. Namun demikian, penggunaan media ini harus hati-hati karena informasi yang diberikan media adalah dalam kerangka entertainment bukan untuk menyajikan kebenaran secara utuh. Bahkan meskipun media mencoba mengungkap kebenaran, informasi yang disampaikan dibatasi waktu dan kerangka editorial.

5. Personal Experience,

Pengalaman pribadi seseorang dapat menjadi sumber pengetahuan yang efektif. Namun demikian, terdapat empat kelemahan dari cara ini, meliputi:

a). overgeneralizations;

Ketika diperoleh data-data pendukung terhadap kepercayaan seseorang, ia berasumsi bahwa hal tersebut berlaku untuk setiap kondisi.

b). selective observation;

kita seringkali mengambil kesimpulan dari peristiwa atau kejadian yang sepenggal-sepenggal. Selanjutnya akan menerima informasi yang sesuai dan menolak informasi yang bertentangan dengan informasi tersebut.

c). premature closure;

jika kita merasa telah memiliki semua data dan informasi yang kita butuhkan, maka kita cenderung malas mencari informasi baru, mendengarkan atau mempertanyakannya lebih lanjut.

d). hallo effect.

Jika yang memiliki pengalaman tersebut adalah orang yang kita hormati atau pengetahuan diperoleh dari sesuatu yang kita kagumi, kita cenderung menilai informasi yang diperoleh dari orang atau sesuatu tersebut adalah kebenaran.

6. Research

Berbeda dengan kelima cara memperoleh pengetahuan yang telah disebutkan diatas, research merupakan cara mendapatkan pengetahuan yang didasarkan pada upaya yang sistematik dengan menggunakan pendekatan ilmiah.

Pemilihan Topik

Pemfokusan Pertanyaan Penelitian

Desain Penelitian

Pengumpulan Data

Analisa Data

Interpretasi Data

Desiminasi/ publikasi

Langkah-langkah Proses Penelitian

Sumber: Neuman, Lawrence W., Social Research Methods: Qualitative and quantitative Approach, 3nd Ed., p.11, USA: Allyn & Bacon, 1997

Terdapat 7 (tujuh) tahap dalam proses mendapatkan pengetahuan melalui research; meliputi:

1) Pemilihan topik;

Topik dalam proses research menduduki posisi yang sangat penting, karena dengan topik ini seseorang dapat menentukan arah penelitian.

Beberapa contoh Topik di bidang Administrasi Negara:

Kompetensi SDM Aparatur

Penerapan kebijakan desentralisasi fiskal di Indonesia

Kelembagaan instansi pemerintah

Partisipasi Wanita dalam Implementasi Program-program Pembangunan

2) Pemfokusan Pertanyaan penelitian;

Topik penelitian pada umumnya masih bersifat sangat umum (general) sehingga pengetahuan yang akan digali juga sangat luas dan kurang terfokus. Untuk kepentingan penelitian, maka topik tersebut harus diturunkan sampai tingkatan yang mudah dioperasionalkan,dalam artian bahwa data dan informasi yang akan digali dari penelitian tersebut sudah jelas.

Fokus penelitian tersebut dapat diperoleh melalui perumusan pertanyaan-pertanyaan penelitian (research question) yang terkait dengan topik tersebut.

Contoh:

Topik

Pertanyaan fokus penelitian

Kompetensi SDM Aparatur

Bagaimana model kompetensi kepemimpinan untuk pemangku jabatan pimpinan pada instansi pemerintah di Daerah ?

Bagaimana tingkat kompetensi pemangku jabatan eselon IV di Kotamadya Jakarta Pusat?

Dsb

Penerapan Kebijakan desentralisasi fiskal di Indonesia

Bagaimana pengaruh desentralisasi fiskal terhadap kesenjangan antar daerah di Indonesia periode 1999-2004?

3) Desain Penelitian.

Desain penelitian melingkupi berbagai informasi penting tentang rencana penelitian. Dalam desain penelitian diuraikan tentang pertanyaan fokus penelitian, tujuan penelitian, variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian, dan berbagai prosedur untuk penentuan sample/key informan, penggalian dan analisa data.

4) Pengumpulan Data

Merupakan proses pengumpulan berbagai data dan informasi yang dibutuhkan dalam penelitian. Proses pengumpulan data ini dilakukan mengacu pada prosedur penggalian data yang telah dirumuskan dalam desain penelitian. Adapun data berdasarkan jenisnya dapat dibedakan atas data primer, data sekunder, data kuantitatif dan data kualitatif.

5) Analisa Data

Data dan informasi yang diperoleh dari proses pengumpulan data selanjutnya dianalisa menggunakan prosedur yang tepat sesuai jenis data dan rancangan yang telah dirumuskan dalam desain penelitian.

6) Interpretasi Data

Hasil analisa data kemudian diinterpretasikan sehingga data-data tersebut memberikan informasi yang bermanfaat bagi peneliti. Pada jenis penelitian eksplanatory, tahap interpretasi data adalah tahap mengkaitkan hubungan antara berbagai variabel penelitian dan untuk menjawab apakah hipotesa kerja diterima ataukah ditolak. Sedangkan pada penelitian deskriptif, interpretasi ini adalah untuk menjelaskan fenomena penelitian secara mendalam berdasarkan data dan informasi yang tersedia.

7) Desiminasi

Hasil penelitian, selanjutnya disampaikan keberbagai pihak. Tujuan desiminasi ini adalah selain untuk memasyarakatkan hasil temuan pada masyarakat dan forum ilmiah, juga agar hasil penelitian mendapatkan umpan balik dari dunia ilmiah.


[1] Neuman, Lawrence W., Social Research Methods: Qualitative and quantitative Approach, 3nd Ed., p.3-5, USA: Allyn & Bacon, 1997.

Hello world!

Posted On Agustus 25, 2008

Filed under Uncategorized

Comments Dropped one response

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!