Metode Penelitian dan Metodologi Penelitian

Metode Penelitian dan Metodologi Penelitian (PDF file)

Dalam kelas metodologi penelitian, seringkali istilah “metode penelitian (research method)” dan “metodologi penelitian (research methodology)” dianggap memiliki pengertian yang sama. Oleh karena itu penggunaan kedua istilah tersebut juga saling menggantikan satu dengan yang lain. Kondisi ini sudah berlangsung cukup lama, sehingga banyak mahasiswa yang tidak menyadari bahwa kedua istilah tersebut sesungguhnya memiliki makna yang berbeda.

Adapun metode penelitian, mengacu pada “prosedur” dan “alat” atau “teknik” tertentu yang digunakan dalam proses penelitian. Metode penelitian, antara lain meliputi: teknik simple random sampling, teknik survey, dan teknik Focus Group Discussion (FGD). Sedangkan metodologi penelitian menunjuk pada Ilmu yang didalamnya mempelajari berbagai metode penelitian yang digunakan baik untuk kepentingan praktis maupun pengembangan ilmu pengetahuan. Metodologi penelitian ini sangat terkait dengan pelbagai asumsi filosofis (philosophical assumptions) yang mendasari proses penelitian.

Implikasi teknis dari pembedaan ini adalah bahwa dalam penulisan karya tulis ilmiah (skripsi, tesis, desertasi), mestinya istilah yang digunakan pada bagian/bab “metodologi/metode penelitian” adalah metode penelitian dan bukan metodologi penelitian. Hal ini karena bagian tulisan tersebut hanya mengungkapkan teknik dan prosedur yang akan dimanfaatkan dalam proses penggalian, analisis dan interpretasi data penelitian. Sementara istilah metodologi penelitian sebenarnya lebih cocok jika dilabelkan untuk nama dari mata kuliah tertentu, seperti Metodologi Penelitian Sosial, Metodologi Penelitian Administrasi, Metodologi Penelitian Kualitatif, dan Metodologi Penelitian Kuantitatif.

Metode Gabungan

Posted On Agustus 27, 2008

Filed under Paradigma Penelitian
Tag:

Comments Dropped leave a response

Metode gabungan, yaitu penggabungan antara metode kuantitaif dan kualitatif dalam satu penelitian pernah dilakukan oleh para peneliti. Campbell dan Fisk pada tahun 1959 menggunakan metode gabungan untuk mengukur sifat psikologis. Selanjutnya, Denzin, pada tahun 1978 menggunakan istilah triangulasi untuk mengkosepkan penggunaan metode gabungan dalam satu penelitian.

Penggunaan gabungan metode penelitian, oleh para peneliti biasanya dilakukan dengan memadukan prosedur pengumpulan data kualitatif dan kuantitatif secara bersamaan. Sebagai contoh, penggalian data pada penelitian tentang persepsi aparatur terhadap kepemimpinan wanita, dapat dilakukan dengan menggunakan survey dan sekaligus wawancara mendalam.

Namun demikian, secara pribadi saya menilai penggabungan kedua metode tersebut sebenarnya kurang cocok. Karena metode sangat terkait dengan paradigma. Penggunaan metode gabungan pada suatu peneitian hanya pada prosedur, justru menimbulkan pertanyaan paradigmatik: ”pendekatan apa yang sesungguhnya digunakan pada penelitian tersebut?’. Menurut saya, setiap metode dan prosedur penelitian sangat lekat dengan paradigmanya masing-masing dan karenanya tidak dapat dicampuradukan.

Jika seorang peneliti kemudian berupaya menggunakan pendekatan gabungan, maka yang perlu dilakukan adalah menggunakan gabungan sebagaimana ditawarkan oleh Creswell (1994), sebagai berikut:

a). Pendekatan desain dua tahap

Desain dua tahap adalah melakukan penelitian dua tahap, dimana kedua tahap tersebut menggunakan metode yang berbeda. Sebagai contoh, tahap pertama peneliti menggunakan metode kuantitatif. Setelah selesai tahap pertama, ia kemudian melakukan penelitian dengan menggunakan metode kualitatif.

Dengan pendekatan ini, peneliti dapat memisahkan kedua pendekatan dengan jelas, karena kedua pendekatan tidak dicampuraduk. Namun demikian, metode ini tentu saja membutuhkan waktu yang lama dan anggaran yang cukup besar.

b). Pendekatan desain dominan-kurang dominan

Pendekatan ini menggunakan gabungan pada prosedur penelitian, tetapi salah satu metode lebih dominan terhadap metode yang lain. Dalam hal ini dapat dikatakan, bahwa metode yang kurang dominan hanya diposisikan sebagai metode pelengkapuntuk mendukung ”kekayaan data”. Sebagai contoh pada penelitian tentang persepsi aparatur terhadap kepemimpinan wanita, metode dominant adalah kualitatif, dan karena itu teknik penggalian data utama adalah melalui wawancara mendalam dan participant observation. Sementara survey dilakukan untuk menambah data saja, dan bukan sebagai prosedur utama.

Keunggulan pendekatan ini, adalah bahwa peneliti sebenarnya masih cukup konsisten dengan pendekatan penelitian yang dipilihnya. Akan tetapi tetap masih memungkinkan adanya kritik dari mereka yang tidak setuju penggabungan, dan dianggap sebagai penelitian dengan prosedur ”salah penempatan”.

Kualitatif ataukah kuantitatif ?

Mengacu pada pendapat Creswell (1994), maka pemilhan atas metode penelitian (kualitatif ataukah kuantitatif) hendaknya mempertimbangkan lima faktor sebagai berikut:

a. Pandangan peneliti

Pandangan peneliti ini mencerminkan “kemantapan” peneliti terhadap asumsi ontologis, epistemologis, aksiologis dan metodologis dari salah satu pendekatan. Jika seseorang lebih tertarik dengan asumsi obyektifitas maka ia mesti memilih metode kuantitatif. Sedangkan mereka yang lebih cenderung pada kedalaman pemahaman dari suatu fenomena, maka ia mesti memilih metode kualitatif.

b. Latihan dan pengalaman peneliti

Latihan-latihan dan pengalaman penggunaan dari suatu metode penelitian tertentu, tentu saja sangat membantu dalam aplikasi metode tersebut. Dengan latihan dan pengalaman tersebut, seseorang menjadi lebih terbiasa dan semakin menguasai penerapan metode yang telah dikuasainya itu. Sebagai contoh, bagi para peneliti yang terlatih menggunakan teknik-teknik statistik, penulisan ilmiah teknis penggunaan software computer untuk analisis kuantitatif, dan terbiasa membaca jurnal kuantitatif di perpustakaan, maka ia akan lebih cocok untuk menggunakan metode kuantitatif. Sedangkan para peneliti yang memiliki banyak pengalaman dalam penulisan essay, terbiasa membaca jurnal penelitian kualitatif, menguasai software computer untuk analisis kualitatif, akan lebih memilih metode kualitatif.

c. Sisi psikologis peneliti

Bagi peneliti yang secara psikologis lebih nyaman dengan kondisi penelitian yang lebih pasti tanpa kerancuan dan frustasi, serta resiko lebih kecil, maka ia akan memilih metode kuantitatif. Hal ini karena metode kuantitatif memberlakukan prosedur dan peraturan yang cermat. Selain itu, metode kuantittaif juga lebih memungkinkan untuk pelaksanaan penelitian dalam waktu yang lebih singkat daripada penelitian dengan desain kualittaif.

Sedangkan peneliti yang bersedia mengambil resiko yang melekat dalam prosedur yang rancu dan pelaksanaan penelitian yang memerlukan waktu lama, maka ia cocok untuk memilih metode kualitatif.

d. Sifat masalah

“masalah” yang akan diteliti seringkali telah menunjukan “kecocokannya” dengan metode tertentu. Pengguna metode kuantitatif biasanya mendapatkan masalah dari kepustakaan dan hasil-hasil penelitian, yang digunakan sebagai pijakan penelitian. Variable-variabel penelitian dapat ditemukan dan dirumuskan sebelum penelitian dilakukan. Sedangkan pengguna metode kualitatif, pada umumnya harus menggali terlebih dahulu masalah penelitian, karena sedikitnya informasi tentang masalah tersebut. variable tidak banyak diketahui, oleh karena itu peneliti harus memusatkan perhatian terhadap konteks agar dapat memhamai fenomena yang sedang diteliti.

e. Pembaca penelitian

Pembaca penelitian adalah mereka yang membaca hasil penelitian sejak hasil penelitian siap dipublikasikan. Para pembaca tersebut antara lain adalah editor jurnal, pembaca jurnal, rekan sekerja, atau atasan tempat kerja. Metode penelitian yang cocok untuk dipilih, adalah yang dapat dipahami para pembaca.

Berdasarkan kelima pertimbanagan diatas, selanjutnya kita dapat menentukan metode mana yang menurut kita cocok untuk penelitian kita nantinya. Jika kita merasa cenderung dengan asumsi-asumsi kuantitatif, terbiasanya dengan analisa statistic, menguasai software untuk kuantitatif, memilki waktu penelitian yang relatif pendek, maka sudah selayaknya kita memilih metode kuantitatif.

Tahap-tahap dalam Penelitian

Terdapat 7 (tujuh) tahap dalam proses mendapatkan pengetahuan melalui research; meliputi:

1) Pemilihan topik;

Langkah pertama yang harus diambil peneliti untuk memulai suatu penelitian adalah dengan menentukan atau memilih topik penelitian. Penentuan topik ini penting, namun karena masih bersifat sangat umum, topik penelitian belum dapat mengarahkan kemana penelitian akan dibawa. Topik dalam penelitian ilmu sosial diperoleh dari berbagai isu yang berkembang dalam masyarakat atau dalam proses penyelenggaraan negara, seperti kemiskinan, kinerja birokrasi, pertumbuhan ekonomi, kualitas pelayanan publik, dan motivasi kerja pegawai.

Topic penelitian ini dalam pemahamanannya sering dikaburkan dengan Judul penelitian. Hal ini dapat difahami, karena pada beberapa kasus, topic digunakan sebagai judul atau sub judul dari suatu penelitian. Pembedaan topic dari judul ini sebenarnya dapat dilihat terutama dari formulasi susunan kalimatnya, karena formulasi judul biasanya sudah memuat hal-hal yang spesifik agar mampu mencerminkan substansi dari penelitian tersebut. Selain itu, topic harus sudah ditetapkan pada tahap awal proses penelitian, sedangkan perumusan judul dapat dilakukan baik pada saat awal maupun ketika penelitian sudah selesai dilakukan.

2) Pemfokusan Pertanyaan penelitian;

Sebagaimana telah disebutkan, bahwa topik penelitian pada umumnya masih bersifat sangat umum (general) sehingga pengetahuan yang akan digali juga sangat luas dan kurang terfokus. Untuk kepentingan penelitian, maka topik tersebut harus diturunkan sampai tingkatan yang mudah dioperasionalkan, sehingga data dan informasi yang akan digali dari penelitian tersebut menjadi jelas.

Fokus penelitian tersebut dapat diperoleh melalui penyusunan pertanyaan-pertanyaan penelitian (research questions) atau rumusan masalah (problem statement) yang terkait dengan topik tersebut.

Contoh:

Topik

Pertanyaan fokus penelitian

Kompetensi SDM Aparatur

Bagaimana model kompetensi kepemimpinan untuk pemangku jabatan pimpinan pada instansi pemerintah di Daerah ?

Bagaimana tingkat kompetensi pemangku jabatan eselon IV di Kotamadya Jakarta Pusat?

Dsb

Penerapan Kebijakan desentralisasi fiskal di Indonesia

Bagaimana pengaruh desentralisasi fiskal terhadap kesenjangan antar daerah di Indonesia periode 1999-2004?

Untuk merumusan fokus penelitian, peneliti terlebih dahulu melakukan pendalaman terhadap topik tersebut. Hal yang menarik untuk diteliti atau isu yang menarik perhatian peneliti dari topik tersebut dan akan diperoleh jawabannya melalui proses penelitian latar belakang dari

3) Desain Penelitian.

Desain penelitian melingkupi berbagai informasi penting tentang rencana penelitian. Dalam desain penelitian diuraikan tentang pertanyaan fokus penelitian, tujuan penelitian, variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian, dan berbagai prosedur untuk penentuan sample/key informan, penggalian dan analisa data.

4) Pengumpulan Data

Merupakan proses pengumpulan berbagai data dan informasi yang dibutuhkan dalam penelitian. Proses pengumpulan data ini dilakukan mengacu pada prosedur penggalian data yang telah dirumuskan dalam desain penelitian. Adapun data berdasarkan jenisnya dapat dibedakan atas data primer, data sekunder, data kuantitatif dan data kualitatif.

5) Analisa Data

Data dan informasi yang diperoleh dari proses pengumpulan data selanjutnya dianalisa menggunakan prosedur yang tepat sesuai jenis data dan rancangan yang telah dirumuskan dalam desain penelitian.

6) Interpretasi Data

Hasil analisa data kemudian diinterpretasikan sehingga data-data tersebut memberikan informasi yang bermanfaat bagi peneliti. Pada jenis penelitian eksplanatory, tahap interpretasi data adalah tahap mengkaitkan hubungan antara berbagai variabel penelitian dan untuk menjawab apakah hipotesa kerja diterima ataukah ditolak. Sedangkan pada penelitian deskriptif, interpretasi ini adalah untuk menjelaskan fenomena penelitian secara mendalam berdasarkan data dan informasi yang tersedia.

7) Diseminasi

Hasil penelitian, selanjutnya disampaikan keberbagai pihak. Tujuan diseminasi ini adalah selain untuk memasyarakatkan hasil temuan pada masyarakat dan forum ilmiah, juga agar hasil penelitian mendapatkan umpan balik dari dunia ilmiah.

Dimensi-dimensi Penelitian

1. Tujuan penelitian

Berdasarkan tujuannya, penelitian dapat dibedakan kedalam tiga jenis, meliputi:

a. Penelitian Eksploratif

Yaitu penelitian yang dilaksanakan untuk menggali data dan informasi tentang topik atau isu-isu baru yang ditujukan untuk kepentingan pendalaman atau penelitian lanjutan. Tujuan penelitian adalah untuk merumuskan pertanyaan-pertanyaan yang lebih akurat yang akan dijawab dalam penelitian lanjutan atau penelitian kemudian. Peneliti biasanya menggunakan penelitian eksplorasi ini untuk mendapatkan pengetahuan yang cukup dalam penyusunan desain dan pelaksanaan kajian lanjutan yang lebih sistematis.

Penelitian eksploratory pada umumnya dilaksanakan untuk menjawab pertanyaan ”Apa (what)” (Apa sesungguhnya fenomena sosial tersebut?). Pada penelitian ini seringkali menggunakan data-data kualitatif.

b. Penelitian deskriptif

Penelitian deskriptif menghadirkan gambaran tentang situasi atau fenomena sosial secara detil. Dalam penelitian ini, peneliti memulai penelitian dengan desain penelitian yang terumuskan secara baik yang ditujukan untuk mendeskripsikan sesuatu secara jelas.

Penelitian deskriptif biasanya berfokus pada pertanyaan ”bagaimana (how)” dan ”siapa (who)” (Bagaimana fenomena tersebut terjadi? Siapa yang terlibat didalamnya?)

c. Penelitian Eksplanatif

Tujuan penelitian eksplanatif adalah untuk memberikan penjelasan mengapa sesuatu terjadi atau menjawab pertanyaan ”mengapa (why)”.

2. Kegunaan penelitian

Berdasarkan kegunaannya, penelitian dapat dibedakan kedalam dua jenis, meliputi:

a. Penelitian dasar (basic research)

Suatu penelitian disebut sebagai penelitian dasar (penelitian akademik atau penelitian murni) jika penelitian tersebut berguna untuk me

mahami “fundamental nature” dari suatu fenomena social atau menyediakan dasar pengetahuan dan pemahaman yang dapat digeneralisir pada berbagai wilayah kebijakan, masalah, atau wilayah kajian. Focus penelitian dasar adalah untuk menolak atau menerima teori-teori yang telah memberikan penjelasan mengapa (why) suatu fenomena social terjadi, apa (what) yang menyebabkan hal tersebut terjadi, mengapa hubungan social mengikuti cara tertentu, dan mengapa masyarakat mengalami perubahan.

b. Penelitian terarapan (applied research)

Kegunaan penelitian terapan adalah pemanfaatan atau penerapan ilmu pengetahuan pada isu-isu praktis tertentu, seperti untuk menjawab persoalan kebijakan atau social problem solving. Pada penelitian terapan penggunaan teori kurang dipentingkan dibandingkan dengan pencarian solusi untuk masalah yang akan ditangani. Pada umumnya, penelitian terapan adalah jenis penelitian deskriptif.

Beberapa jenis penelitian terapan, antara lain: action research, social impact assesment, dan evaluation research.

1) Action Research

Adalah penelitian terapan yang memperlakukan pengetahuan sebagai kekuatan dan menghapus garis pemisah antara penelitian dan tindakan sosial. Banyak jenis dari penelitian tindakan, namun demikian ada beberapa karakteristik yang berlaku umum, meliputi: 1) mereka yang dipelajari berpartisipasi dalam proses penelitian; 2) penelitian berkaitan dengan pengetahuan yang umum atau sudah populer; 3) fokus penelitian adalah pada kekuatan (power) dengan tujuan penguatan (empowerment); 4) arah penelitian adalah untuk menumbuhkan kesadaran atau meningkatkan keperdulian; dan 5) penelitian terkait secara langsung dengan tindakan politik.

2) Social Impact Assessment

Merupakan bagian dari Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL) yang seringkali diperlukan untuk menaksir dampak social yang akan timbul atau menganalisis dampak social yang terjadi karena adanya suatu proyek atau penerapan suatu kebijakan tertentu.

Wilayah yang dikaji, antara lain mencakup:

Pelayanan masyarakat (mis. school enrolments, speed of policy responses)

Kondisi sosial (mis. Rata-rata kejahatan)

Dampak ekonomi (mis. business failure rate)

Konsekuensi demografi (mis.pergerakan penduduk keluar atau masuk suatu wilayah).

Lingkungan (mis., perubahan kualitas lingkungan kita)

Hasil kesehatan (mis. Perubahan jenis penyakit)

Efek terhadap psikologi (mis. Perubahan perilaku, stres)

3) Evaluation Research

penelitian jenis ini biasanya dilakukan untuk menjawab pertanyaan “apakah kebijakan/program ini bekerja sebagaimana seharusnya?”. Smith and Glass (1987: 31) mendefinisikan penelitian evaluasi sebagai “the process of establishing value judgments based on evidence”.

Evaluation research mengukur efektivitas dari suatu kebijakan, program atau cara melakukan sesuatu. Penelitian ini dapat berbentuk deskriptif, eksploratif, maupun eksplanatif. Namun demikian, pada umumnya adalah deskriptif. Jenis penelitian ini meliputi formative dan summative. Formative evaluation dilaksanakan berbarengan dengan monitoring (built-in monitoring). Sedangkan Summative evaluation dilaksanakan setelah kegaitan selesai dan ditujukan untuk mengetahui hasil dari penerapan kebijakan tersebut.

3. Waktu dalam penelitian

a. Cross-Sectional

Penelitian jenis ini menggunakan pendekatan snapshot atau observasi dilakukan pada satu waktu tertentu.

b. Longitudinal research

Longitudinal research dilaksanakan dalam waktu yang relative lama atau observasi dilaksanakan lebih dari sekali. Penelitian ini meliputi time series research, panel study, dan Cohort analysis.

1) Time series research,

Dalam penelitian ini, tipe data dan informasi yang sama dikumpulkan dari kelompok orang atau unit dalam beberapa periode waktu.

2) Panel study,

Penelitian ini lebih susah dilaksanakan dari pada penelitian time series. Dalam panel study, peneliti benar-benar melakukan observasi terhadap orang, group, atau organisasi yang sama dalam beberapa periode waktu.

3) Cohort analysis.

Penelitian ini mirip dengan Panle study tetapi lebih menitikberatkan pada pengamatan terhadap katagori orang-orang yang berbagi pengalaman hidup yang sama dalam suatu peride waktu tertentu. Dengan demikian, focus cohort adalah katagori, bukan indifidual. Pada umumnya penggunaan cohort meliputi seluruh orang yang terlahir dalam tahun yang sama (disebut birth cohorts), seluruh orang yang pension dalam renatng waktu satu atau dua tahun, dan seluruh orang yang lulus pada tahun yang sama.

c. Case Study

Cross-Sectional dan Longitudinal research dilakukan pada penelitian kuantitatif. Sedangkan pada penelitian kualitatif, pada umumnya para peneliti menggunakan case study atau studi kasus.

Selain berbeda dengan Cross-Sectional dan Longitudinal research dalam jenis data yang dikumpulkan, case study mengutamakan kedalaman dari data penelitian tersebut sehingga seringkali memerlukan waktu yang realtif lama. Data penelitian yang diperoleh dari penelitian ini selain mendalam, juga biasanya beragam dan sangat detil.

Case study ini pada dasarnya tidak identik dengan penelitian kualitatif. Namun demikian, hampir seluruh penelitian kualitatif berusaha mmebangun konstruk berdasarkan kedalaman dan detil pengetahuan dari kasus-kasus.

4. Teknik Pengumpulan Data

Data penelitian dapat dibedakan atas data kuantitatif yang berupa angka-angka dan data kualitatif yang berujud kata-kata ataupun gambar-gambar. Data-data kuantitatif pada umumnya dikumpulkan melalui beberapa teknik berikut:

a. Experiment

Penelitian ini mengikuti prosedur dan kaidah sebagaimana penelitian dalam ilmu alam. Pada ilmu social, experiment dilaksanakan di laboratorium maupun di kehidupan nyata. Biasanya, penelitian ini hanya melibatkan sedikit orang yang diamati dan dikaji untuk menjawab pertanyaan yang terumuskan secara baik.

Dalam sebagian besar experiment, peneliti membagi orang-orang yang diteliti dalam dua kelompok atau lebih. Kemudian, kedua kelompok tersebut diberikan perlakuan yang sama, kecuali bahwa salah satu kelompok tersebut mendapatkan perlakuan khusus sebagai sesuatu yang akan diamati. Selanjutnya peneliti mengukur perubahan atau reaksi yang terjadi pada kedua kelompok tersebut. Dengan mengontrol lingkungan kedua kelompok dan perlakuan tertentu pada satu kelompok, peneliti dapat menyimpulkan hubungan antara perubahan perilaku dan perlakuan tersebut.

b. Surveys

Adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara menyebarkan kuesioner atau melakukan wawancara dengan sejumlah sample penelitian. Data yang dikumpulkan, selanjutnya oleh peneliti diringkas dalam bentuk persentase, tabel atau grafik. Hasil survey, meskipun diperoleh dari sejumlah sample, namun demikian dapat digeneralisasikan untuk populasi penelitian. Survey ini biasanya dilakukan untuk penelitian deskriptif dan explanatory.

c. Content analysis

Adalah teknik untuk menjelaskan informasi, atau isi dalam materi yang tertulis ataupun berwujud symbol (gambar, film, lirik lagu). Dalam teknik ini, pertama kali, peneliti mengidentifikasi tubuh dari materi (body of material) untuk dianalisis (buku, majalah, film). Dan kemudian menciptakan system untuk merekam aspek-aspek khusus dari materi tersebut. Sistem dapat juga mencakup perhitungan berapa sering kata-kata tertentu disebutkan dalam material tersebut. Akhirnya, peneliti merekam apa yang sudah ditemukan dalam material. Peneliti sering kali mengukur informasi dalam teknik ini dalam bentuk bilangan dan menampilakanya dalam tabel atau grafik.

d. Existing statistic

Dalam teknik ini, peneliti pertama-tama memilih sumber-sumber data yang sudah terkumpul, dan seringkali dalam bentuk laporan pemerintah atau hasil-hasil penelitian. Peneliti kemudian mengorganisir kembali atau mengkombinasikan berbagai informasi dengan cara yang baru untuk mengarah kepada pertanyaan penelitian.

Pada data kualitatif:

a. Field research

Field research dimulai dengan perumusan gagasan atau topic yang dapat berubah. Selanjutnya peneliti memilih kelompok social atau lokasi untuk diteliti. Setelah peneliti mendapatkan akses terhadap kelompok atau lokasi tersebut segera ia mengadopsi setting peran sosail dan melakukan penelitian.peneliti melakukan observasi dan berinteraksi dalam lingkungan social tersebut dalam waktu yang dapat saja hanya beberapa bulan tetapi dapat juga dalam waktu yang cukup lama. Individu yang diwawncarai biasanya sudah dikenal betul oleh peneliti.

Data-data yang dicatat dalam penelitian ini sangat detil, karena informasi-informasi penting dicatat dari hari demi hari. Selama proses pengamatan ini, peneliti selalu mempertimbangkan apa yang sedang ia teliti dan selalu mempertajam signifikansi focus dari topic atau gagasan yang dibawa dalam penelitian. Tahap akhir dari penelitian ini adalah ketika peneliti telah meninggalkan lokasi penelitian, ia kemudian membaca ulang semua tulisan dan menyusun laporan.

Field research biasanya digunakan untuk penelitian eksploratif dan deskriptif, sangat jarang untuk penelitian eksplanatif.

b. Historical-comparative research

Penelitian ini menjelaskan aspek-aspek kehidupan di masa yang telah lalu atau melampaui berbagai budaya yang berbeda.

Penelitian dan Penciptaan Pengetahuan

file bentuk PDF download di sini

Sudah jamak, bagi manusia memiliki keingintahuan terhadap sesuatu. Ketika muncul dihadapannya suatu fenomena yang menarik, pertanyaan yang sering muncul dibenaknya adalah “apa”, “mengapa”, dan “bagaimana” tentang fenomena tersebut. Untuk menjawab berbagai pertanyaan tersebut, banyak cara yang dapat dilakukan oleh manusia, yang semuanya mengarah pada penciptaan atau untuk mendapatkan pengetahuan yang diperlukan.

Menurut Newman[1], terdapat 6 (enam) cara yang dilakukan manusia untuk mendapatkan pengetahuan, meliputi:

1. Authority,

Authority (otoritas) menunjuk pada penguasaan, kemampuan dan keahlian seseorang pada bidang tertentu. Dengan cara ini orang memandang bahwa apa yang diucapkan ataupun ditulis oleh mereka yang dinilai memiliki otoritas adalah suatu kebenaran. Penggunaan cara ini dapat mempersingkat waktu dalam mendapatkan pengetahuan, apalagi jika pemilik otoritas tersebut memiliki kredibilitas yang tinggi. Namun demikian, kepercayaan yang tinggi terhadap pemangku otoritas akan mengakibatkan manusia cenderung kurang kritis, dan menerima informasi tanpa upaya mempertanyakan lagi kebenaran dari informasi tersebut. Otoritas dapat menyesatkan, khususnya ketika informasi yang diterima tersebut sebenarnya tidak benar.

Penggunaan otoritas sebagai sumber pengetahuan sering dijumpai dalam lingkungan lembaga keagamaan dan birokrasi pemerintah. Pernyataan-pernyataan para mentari atau pejabat tinggi negara tentang sesuatu sering diterima sebagai kebenaran khususnya oleh mereka yang berada dalam lingkungan tersebut.

2. Traditions,

Seseorang dikatakan menggunakan tradisi sebagai cara untuk mendapatkan pengetahuan, ketika ia menjadikan nilai-nilai yang telah melembaga dalam masyarakat atau peristiwa masa lalu sebagai rujukan kebenaran.

Bagi yang menggunakan tradisi sebagai cara mendapatkan pengetahuan, kesalahan tradisi akan dikesampingkan, karena menurut meraka “sesuatu yang dulu benar, sampai kapan juga akan tetap benar”.

Contoh penggunaan tradisi sebagai sumber pengetahuan dalam masyarakat kita adalah peran wanita dalam keluarga, khususnya peran dalam pendidikan anak. Dalam tradisi tersebut, pendidikan anak dibebankan pada para ibu-ibu, dan hal ini terus berlanjut sampai sekarang.

3. Common Sense,

Pengetahuan yang dipandang masyarakat umum sebagai suatu kebenaran dan hal tersebut juga masuk akal, dapat juga digunakan oleh orang sebagai cara untuk mendapatkan pengetahuan. Cara ini dapat bermanfat dalam kehidupan sehari-hari, tapi terkadang juga dapat menyesatkan.

4. Media Myth,

Media memberikan banyak informasi pada masyarakat, dan sangat sering digunakan sebagai sumber utama pengetahuan. Namun demikian, penggunaan media ini harus hati-hati karena informasi yang diberikan media adalah dalam kerangka entertainment bukan untuk menyajikan kebenaran secara utuh. Bahkan meskipun media mencoba mengungkap kebenaran, informasi yang disampaikan dibatasi waktu dan kerangka editorial.

5. Personal Experience,

Pengalaman pribadi seseorang dapat menjadi sumber pengetahuan yang efektif. Namun demikian, terdapat empat kelemahan dari cara ini, meliputi:

a). overgeneralizations;

Ketika diperoleh data-data pendukung terhadap kepercayaan seseorang, ia berasumsi bahwa hal tersebut berlaku untuk setiap kondisi.

b). selective observation;

kita seringkali mengambil kesimpulan dari peristiwa atau kejadian yang sepenggal-sepenggal. Selanjutnya akan menerima informasi yang sesuai dan menolak informasi yang bertentangan dengan informasi tersebut.

c). premature closure;

jika kita merasa telah memiliki semua data dan informasi yang kita butuhkan, maka kita cenderung malas mencari informasi baru, mendengarkan atau mempertanyakannya lebih lanjut.

d). hallo effect.

Jika yang memiliki pengalaman tersebut adalah orang yang kita hormati atau pengetahuan diperoleh dari sesuatu yang kita kagumi, kita cenderung menilai informasi yang diperoleh dari orang atau sesuatu tersebut adalah kebenaran.

6. Research

Berbeda dengan kelima cara memperoleh pengetahuan yang telah disebutkan diatas, research merupakan cara mendapatkan pengetahuan yang didasarkan pada upaya yang sistematik dengan menggunakan pendekatan ilmiah.

Pemilihan Topik

Pemfokusan Pertanyaan Penelitian

Desain Penelitian

Pengumpulan Data

Analisa Data

Interpretasi Data

Desiminasi/ publikasi

Langkah-langkah Proses Penelitian

Sumber: Neuman, Lawrence W., Social Research Methods: Qualitative and quantitative Approach, 3nd Ed., p.11, USA: Allyn & Bacon, 1997

Terdapat 7 (tujuh) tahap dalam proses mendapatkan pengetahuan melalui research; meliputi:

1) Pemilihan topik;

Topik dalam proses research menduduki posisi yang sangat penting, karena dengan topik ini seseorang dapat menentukan arah penelitian.

Beberapa contoh Topik di bidang Administrasi Negara:

Kompetensi SDM Aparatur

Penerapan kebijakan desentralisasi fiskal di Indonesia

Kelembagaan instansi pemerintah

Partisipasi Wanita dalam Implementasi Program-program Pembangunan

2) Pemfokusan Pertanyaan penelitian;

Topik penelitian pada umumnya masih bersifat sangat umum (general) sehingga pengetahuan yang akan digali juga sangat luas dan kurang terfokus. Untuk kepentingan penelitian, maka topik tersebut harus diturunkan sampai tingkatan yang mudah dioperasionalkan,dalam artian bahwa data dan informasi yang akan digali dari penelitian tersebut sudah jelas.

Fokus penelitian tersebut dapat diperoleh melalui perumusan pertanyaan-pertanyaan penelitian (research question) yang terkait dengan topik tersebut.

Contoh:

Topik

Pertanyaan fokus penelitian

Kompetensi SDM Aparatur

Bagaimana model kompetensi kepemimpinan untuk pemangku jabatan pimpinan pada instansi pemerintah di Daerah ?

Bagaimana tingkat kompetensi pemangku jabatan eselon IV di Kotamadya Jakarta Pusat?

Dsb

Penerapan Kebijakan desentralisasi fiskal di Indonesia

Bagaimana pengaruh desentralisasi fiskal terhadap kesenjangan antar daerah di Indonesia periode 1999-2004?

3) Desain Penelitian.

Desain penelitian melingkupi berbagai informasi penting tentang rencana penelitian. Dalam desain penelitian diuraikan tentang pertanyaan fokus penelitian, tujuan penelitian, variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian, dan berbagai prosedur untuk penentuan sample/key informan, penggalian dan analisa data.

4) Pengumpulan Data

Merupakan proses pengumpulan berbagai data dan informasi yang dibutuhkan dalam penelitian. Proses pengumpulan data ini dilakukan mengacu pada prosedur penggalian data yang telah dirumuskan dalam desain penelitian. Adapun data berdasarkan jenisnya dapat dibedakan atas data primer, data sekunder, data kuantitatif dan data kualitatif.

5) Analisa Data

Data dan informasi yang diperoleh dari proses pengumpulan data selanjutnya dianalisa menggunakan prosedur yang tepat sesuai jenis data dan rancangan yang telah dirumuskan dalam desain penelitian.

6) Interpretasi Data

Hasil analisa data kemudian diinterpretasikan sehingga data-data tersebut memberikan informasi yang bermanfaat bagi peneliti. Pada jenis penelitian eksplanatory, tahap interpretasi data adalah tahap mengkaitkan hubungan antara berbagai variabel penelitian dan untuk menjawab apakah hipotesa kerja diterima ataukah ditolak. Sedangkan pada penelitian deskriptif, interpretasi ini adalah untuk menjelaskan fenomena penelitian secara mendalam berdasarkan data dan informasi yang tersedia.

7) Desiminasi

Hasil penelitian, selanjutnya disampaikan keberbagai pihak. Tujuan desiminasi ini adalah selain untuk memasyarakatkan hasil temuan pada masyarakat dan forum ilmiah, juga agar hasil penelitian mendapatkan umpan balik dari dunia ilmiah.


[1] Neuman, Lawrence W., Social Research Methods: Qualitative and quantitative Approach, 3nd Ed., p.3-5, USA: Allyn & Bacon, 1997.

Hello world!

Posted On Agustus 25, 2008

Filed under Uncategorized

Comments Dropped one response

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

« Laman Sebelumnya